Dendam antara Ternate-Tidore sejak abad 16 dimana kesultanan Islam ini berinteraksi dengan dua bangsa barat (Portugis dan Spanyol) yang saling bersaing dipulau rempah (Spice Island). Dalam konteks inilah sehingga Portugis tiba di Ternate pada tahun 1512, berdasarkan keputusan Paulus Roma, sejalan dengan traktat Tordisillas 1494 antara Spanyol dan Portugis maka jalur navigasi pelayaran dari Eropa ke sebelah barat menjadi milik eksklusif Portugis. Bangsa barat yang lain dengan demikian terpaksa harus menempuh jalur palayaran yang berbeda ke negeri rempah-rempah tersebut. Keuntungan Portugis atas jalur laut dan perdagangan komoditi tersebut, mendorong kerajaan Spanyol mencari jalur laut sendiri ke arah timur (atlantik) yang pada masa itu dikenal sebagai “The Sea of Darkness” (Samudra Kegelapan). Eksploitasi inilah yang dicatat sejarah maritim dunia dalam dua hal penting yaitu penemuan benua Amerika dan perjalanan keliling dunia yang pertama.
Kesultanan Tidore terlibat secara tidak langsung dalam perjalanan keliling tersebut melalui penyambutan Sultan Al-Masyur atas Juan Sebastian Elkano dengan dua kapal Trinidad dan Victoria, yang tiba di Rum Tidore, tiga jam sebelum matahari terbenam pada 8 November 1521. Armada ini adalah bagian dari ekspedisi Ferdinand Magellan yang berangkat dari Spanyol dengan lima kapal dan 250 awak. Hanya tiga kapal yang terus berlayar dari selat Magelan menuju Philipina.
Dari pengaruh kedatangan bangsa barat tersebut maka menambah runcingnya konflik antara kedua kerajaan yaitu kerajaan Ternate dan Tidore, yang disebabkan oleh berbagai faktor yang saling terkait antara satu dengan lainnya. Karena mengingat bahwa sepanjang sejarah kerajaan Ternate dan Tidore berdamai hanya dua kali yaitu pada masa pengangkatan sultan Saidi dan terbunuhnya Sultan Khairun.
Sejarah telah mencatat sejak kemunculannya pada pertengahan abad 13 Kerajaan Ternate dan Kerajaan Tidore sudah merebut hegemoni. Ternate melakukan perluasan ke Halmahera Utara, Kepulauan Lease, Ambon, Suru, Sula dan Seram Sementara Tidore melakukan ekspansi ke Halmahera Tengah, Seram Timur dan Kawasan Raja Ampat di Papua. Persaingan ini sehingga mereka memiliki mitra koalisi asing yang berbeda Ternate merangkul Portugis pada tahun 1512, sedangkan Tidore bersekutu dengan Spanyol sepuluh tahun kemudian atau tepatnya 1521.
Dengan adanya persekutuan tersebut sehingga masing-masing merasa dirinya paling hebat karena adanya dukungan hingga pada akhirnya terjadi perang antara Tidore dan Ternate sampai didirikannya benteng di Rum Tidore dan Kayu Merah Ternate.
Orang Spanyol segera membangun sebuah pangkalan di Tidore, kemudian pada saat sultan sedang berkunjung ke Bacan, orang Spanyol mengirim utusan dan melakukan kesepakatan dengan sultan untuk dijadikan Tidore sebagai pangkalan untuk melakukan penyerbuan ke Ternate dan Tidore akan menyediakan sejumlah armada korakora dengan tentara berkekuatan 600 orang. Orang Spanyol heran karena kemudian ternyata janji itu diluar dugaan benar-benar dipenuhi.
Serangan gabungan Spayol-Tidore ke Ternate dimulai pada waktu subuh, 1 April 1606 dengan pendaratan gabungan yang dikordinasikan dengan baik pada tempat-tempat yang agak terjangkau disepanjang pantai batu karang. Yang pada akhirnya perang dimenangkan oleh pihak Spanyol dan Tidore.
Kemudian masuk dalam babak baru terjadinya konflik Kerajaan Ternate dan Tidore sejak pergantian antara kompeni Belanda masuk ke Ternate dan melakukan politik ektirpasi dan monopoli perdagangan sehingga Tidore tidak kalah dan bekerjasama dengan Inggris. Dengan kelihaian diplomasinya Nuku berhasil mengajak Kolonel Burr untuk melaksanakan perundingan yang hasilnya yaitu merebut kekuasaan Ternate dengan menggunakan kekuatan senjata.
Akhirnya pada tanggal 1 Februari 1801 Ternate diserang oleh gabungan armada Inggris dan Tidore yang terdiri dari tujuh buah kapal perang Inggris dan 40 buah kora-kora Tidore, yang menjadi sasaran adalah benteng Teluko dan kubu-kubu meriam sentosa dan kampung Makassar, merupakan jaminan perhubungan benteng Teluko dengan benteng Oranye. Sesudah penembakan dengan meriam-meriam kapal, kemudian mendaratlah pasukan-pasukan penyerang dari Tidore ke Santosa dan Kampung Makassar perahu kora-kora Ternate dibakar dan sebagian dirampas serta tempat-tempat pertahanan dirusak.
Pada akhirnya Ternate menyerah dengan syarat-syarat antara lain ditetapkan: semua pegawai yang rela, tinggal bekerja seperti biasa, sultan Ternate dan bobato-bobatonya tetap dalam kedudukan pemerintahannya. (E. Katoppo, 1987 : 174).
Pada akhirnya tanggal 5 November 1801 diadakannya perjanjian damai antara Ternate dan Tidore disponsori oleh Inggris yang isinya yaitu :
Semua peristiwa dan perbuatan-perbuatan permusuhan yang telah berlaku dalam tahun-tahun yang lampau, dilupakan dan saling dimaafkan oleh kedua belah pihak; mulai hari penandatanganan surat perjanjian itu, kedua kesultanan beserta rakyatnya akan hidup damai dalam suasana persahabatan dan persaudaraan; jika kiranya timbul perselisihan-perselisihan yang tidak diharapkan, maka perselisihan itu tidak dipecahkan dengan senjata atau peperangan, melainkan diperhadapkan untuk dipertimbangkan kepada Robert Townsend Farquhar Esq, yang sebagai wasit, yang tidak memihak, akan menyelesaikan secara damai.
Kemudian ada perjanjian atau kontrak antara kompeni Belanda dengan Sultan Tidore Zainal Abidin yang isinya sebagai berikut :
1. Dalam protokol upacara di Kasteel Oranje di Ternate Sultan Tidore berhak terdahulu dimuka sultan Ternate dan Bacan
2. Kompeni Belabda membayar setiap tahun kepada sultan Tidore sejumlah uang, sebanyak yang dibayarkan kepada sultan Ternate, selaku pengganti kerugian dari penumpasan pohon-pohon pala dan cengkeh dalam masa lampau.
3. Tidore bersedia menjual pala kepada kompeni dengan harga yang ditetapkan oleh kedua belah pihak.
4. Kompeni mengakui Kaicil Jailolo sebagai sultan dan haknya atas daerah jazirah utara Halmahera yang harus dilepaskan oleh Sultan Ternate
5. Pulau Makian yang sekarang menjadi daerah sengketa antara Ternate dan Tidore, supaya dimasukan ke dalam wilayah Kesultanan Tidore atau biarkan orang Makian menentukan sendiri kemana mereka suka digabungkan, ke Tidore atau ke Ternate.
Kemudian pada akhirnya Ternate bekerjasama dengan Belanda tetap mengempur kerajaan Tidore tetapi semua usaha berakhir dengan sia-sia, namun dari hati sanubari penulis tergores sampai kapankan dendam kerajaan itu akan berakhir, ataukah sudah berakhir ?
Minggu, 23 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
2 komentar:
karangan fiktif atau belaka, sejarah yang benar itu diakui oleh dunia dan dibukukan di pemerintah indonesia sebagai bahan pelajaran.
Ini sejarahnya
Kerajaan Ternate - Tidore
Bangsa barat yang pertama kali datang adalah Portugis yang akhirnya bersekutu dengan Ternate tahun 1512. Karena persekutuan tersebut maka Portugis diperbolehkan mendirikan benteng di Ternate.
Spanyol pun datang ke Maluku pada waktu itu bermusuhan dengan Portugis. Akhirnya Spanyol di Maluku bersekutu dengan Tidore.
Akibat persekutuan tersebut maka persaingan antara Ternate dengan Tidore semakin tajam, bahkan menyebabkan terjadinya peperangan antara keduanya yang melibatkan Spanyol dan Portugis. Dalam peperangan tersebut Tidore dapat dikalahkan oleh Ternate yang dibantu oleh Portugis.
Keterlibatan Spanyol dan Portugis pada perang antara Ternate dan Tidore, pada dasarnya bermula dari persaingan untuk mencari pusat rempah-rempah dunia sejak awal penjelajahan samudra, sehingga sebagai akibatnya Paus turun tangan untuk membantu menyelesaikan pertikaian tersebut.
Usaha yang dilakukan Paus untuk menyelesaikan pertikaian antara Spanyol dan Portugis adalah dengan mengeluarkan dekrit yang berjudul Inter caetera Devinae, yang berarti Keputusan Illahi. Dekrit tersebut ditandatangani pertama kali tahun 1494 di Thordessilas atau lebih dikenal dengan Perjanjian Thordessilas. Dan selanjutnya setelah adanya persoalan di Maluku maka kembali Paus mengeluarkan dekrit yang kedua yang ditandatangani oleh Portugis dan Spanyol di Saragosa tahun 1528 atau disebut dengan Perjanjian Saragosa.
Perjanjian Thordessilas merupakan suatu dekrit yang menetapkan pada peta sebuah garis maya perbatasan dunia yang disebut Garis Thordessilas yang membentang dari Kutub Utara ke Kutub Selatan melalui Kepulauan Verdi di sebelah Barat benua Afrika. Wilayah di sebelah Barat Garis Thordessilas ditetapkan sebagai wilayah Spanyol dan di sebelah Timur sebagai wilayah Portugis.
Sedangkan Perjanjian Saragosa juga menetapkan sebuah garis maya baru sebagai garis batas antara kekuasaan Spanyol dengan kekuasaan Portugis yang disebut dengan Garis Saragosa. Di mana garis tersebut membagi dunia menjadi 2 bagian yaitu Utara dan Selatan. Bagian Utara garis Saragosa merupakan kekuasaan Spanyol dan bagian Selatannya adalah wilayah kekuasaan Portugis. Dari penjelasan tersebut apakah Anda sudah paham? Kalau sudah paham simaklah uraian materi selanjutnya.
Dengan adanya perjanjian Saragosa tersebut, maka sebagai hasilnya Portugis tetap berkuasa di Maluku sedangkan Spanyol harus meninggalkan Maluku dan memusatkan perhatiannya di Philipina. Sebagai akibat dari perjanjian Saragosa, maka Portugis semakin leluasa dan menunjukkan keserakahannya untuk menguasai dan memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Tindakan sewenang-wenang Portugis menimbulkan kebencian di kalangan rakyat Ternate, bahkan bersama-sama rakyat Tidore dan rakyat di pulau-pulau lainnya bersatu untuk melawan Portugis. Perlawanan terhadap Portugis pertama kali dipimpin oleh Sultan Hairun dari Ternate, sehingga perang berkobar dan benteng pertahanan Portugis dapat dikepung. Dalam keadaan terjepit tersebut, Portugis menawarkan perundingan. Akan tetapi perundingan tersebut merupakan siasat Portugis untuk membunuh Sultan Hairun tahun 1570.
Dengan kematian Sultan Hairun, maka rakyat Maluku semakin membenci Portugis, dan kembali melakukan penyerangan terhadap Portugis yang dipimpin oleh Sultan Baabullah pada tahun 1575. Perlawanan ini lebih hebat dari sebelumnya sehingga pasukan Sultan Baabullah dapat menguasai benteng Portugis. Keberhasilan Sultan Baabullah merebut benteng Sao Paolo mengakibatkan Portugis menyerah dan meninggalkan Maluku. Dengan demikian Sultan Baabullah dapat menguasai sepenuhnya Maluku dan pada masa pemerintahannya tahun 1570 – 1583 kerajaan Ternate mencapai kejayaannya karena daerah kekuasaannya meluas terbentang antara Sulawesi sampai Irian dan Mindanau sampai Bima, sehingga Sultan Baabullah mendapat julukan ‘Tuan dari 72 Pulau’. Demikianlah uraian materi tentang kehidupan politik kerajaan Ternate dan Tidore.
Mysuru Casino 2020: 50% Off (2 Nights) Promo Code and Review
Find out more about Mysuru Casino. 전라북도 출장샵 Get a welcome bonus 충청북도 출장마사지 and a 50% deposit bonus for 구리 출장마사지 new 문경 출장마사지 players. Get exclusive Mysuru Casino no deposit 양산 출장마사지 bonus offers from the most
Posting Komentar